Membayangkan Negara ini,, seperti membayangkan Indonesia beberapa tahun yang lalu. Coba simak apa yang kami lihat dan kami rasakan selama di negeri ini;
Ketika pertama mendarat di Airport, suasana bandara yang nyaman sangat jauh terasa dari harapan. Para penumpang harus mengantri berular-ular dan diperlakukan bukan seperti layaknya seorang tamu oleh petugas bandara. Budaya antri ini bukanlah budaya yang mengakar dan berurat di negeri ini, bayangkan ketika kita mengantri,, dapat dengan jelas terlihat bahwa ada beberapa orang yang membawa Passport orang-orang tertentu dan lewat jalur belakangan meminta petugas bandara untuk menstempel passport tersebut dan selanjutnya bisa dibayangkan apa yang terjadi, orang tersebut dengan leluasa melewati antrian yang sudah panjang dan tidak bergerak ini.
Keluar dari bandara, kembali kita harus berhadapan dengan petugas beacukai yang sudah menanti dan mengawasi koper-koper tertentu yang sudah diberi tanda khusus (X) dengan kapur putih,, bila kita beruntung, dengan uang sejumlah tertentu koper kita bisa lolos dari pengawasan mereka, ini berarti apa?? Kita bisa membawa apa saja ke negeri ini asalkan kita sanggup memberikan pelicin kepada petugas,.
Budaya pelicin dan uang mulai berlaku sejak di pintu kedatangan,, apakah sudah selesai?? Ternyata belum,
Lepas dari petugas bandara kita sudah ditunggu oleh pengangkut koper liar yang pura-pura dengan sopan membantu memindahkan barang dari troli ke mobil kita,, lagi kalau kita tidak waspada,, jangan kita beranggapan bahwa mereka adalah orang yang baik hati,, ternyata mereka tidak mau pergi, sebelum kita memberikan sejumlah uang,, dan hebatnya uang yang diminta tidak tanggung-tanggung bukan sedikit ternyata,, antara 5-10 dolar amerika bila kita kurs kan,,Sebuah pemerasan gaya modern,.
Menyedihkan memang, tapi jangan harap kita meminta tolong kepada petugas pengamanan karena sepanjang mata memandang budaya pelayanan memang jauh panggang dari api.
Selanjutnya apalagi??
Jalan raya, sebuah etalase ketertiban suatu daerah,, benar-benar menjadi contoh kesemrawutan negeri ini,. Tidak ada yang mau mengantri meskipun hanya untuk menuju pintu keluar bandara,. Bila kita tertib, maka makan hati adalah akibatnya,, karena kendaraa-kendaraan dengan pengemudi lokal dengan seenaknya menyalip kita dan tiba-tiba sudah berada didepan kita,.
Sebuah potret lain, perumahan. Perumahan di negeri ini tidak memiliki saluran sanitasi yang baik, jadi jangan heran kalau semua kotoran dibuang ke jalan,, jadi jalan raya bukan hanya tempat berkumpulnya orang tapi juga tempat berkumpulnya kotoran,, luar biasa, bagaimana mereka bisa bertahan dengan kondisi seperti ini,. Sebuah contoh buram kesemrawutan dan ketidak teraturan. Hidup tanpa aturan adalah kehidupan yang menyedihkan. Namun lebih menyedihkan lagi bila kita hidup tanpa ada pelayanan publik yang selayaknya.
Menyedihkan lagi bukan? Tapi itu belum seberapa,, bila kita pergi ke Bank dan mencoba untuk berdiri dalam antrian,, maka bisa sampai sore kita tidak akan dapat kesempatan karena memang antrian itu tidak pernah ada,. Bagi mereka, siapa cepat maka dia dapat,. Ataupun bila kita mengantri di Bank untuk mengambil uang kita sendiripun,, bisa jadi lagi-lagi kalau mau dilayani cepat dibutuhkan “pelicin” agar kita bisa dilayani lebih cepat lewat jalur belakang,.
Cerita belum berakhir,;
Suatu hari kami mendapatkan musibah,, rumah dimana kami tinggal dibobol maling. Hal pertama yang dilakukan adalah melaporkan masalah tersebut kepada pemilik rumah. Permasalahan menjadi menarik ketika pada s saat itu pada pukul 6 pagi, sipemilik rumah menelepon polisi untuk meminta bantuan, dan ternyata apa jawaban sang polisi?? “silahkan anda datang ke kantor untuk membuat laporan nanti kalau hari sudah mulai terang”… Luar biasa,, budaya pelayanan mereka benar-benar tidak ada,.
Sudah selesai?
Masih ada lagi,, sektor swasta maupun sektor pelayanan publik lainnya sama-sama berlomba mencari untung dari berbagai kondisi yang telah tercipta selama ini. Bagi mereka semua pelayanan menjadi barang yang mahal. Bukan kewajiban mereka melayani rakyatnya yang notabene adalah stakeholder maupun customernya,. Pelayanan hanyalah tipuan sederhana karena semua sektor pelayanan telah dimonopoli oleh beberapa pihak saja, sehingga bagi mereka kalaupun mereka tidak melayani dengan baik, sang pelanggan tidak akan dapat layanan dari pihak lain,. Karena memang tidak ada pilihan lain.
Luar biasa,. Apa yang sudah kita bayar, tidak akan sebanding dengan apa yang kita harapkan, tapi itu tidak ada pilihan bukan?
Membayangkan lebih jauh negeri ini, maka tidak mengherankan bila hampir 90% rakyatnya sangat miskin dan kelaparan ada dimana-mana. Perang sipil telah berkecamuk selama puluhan tahun karena ketidak puasan kepada kondisi dan keadaan yang dikendalikan secara sentralistik dari ibukota,. Hampir sebagian besar anggaran Negara tersedot untuk menghidupi militer dan membeli amunisi yang digunakan untuk membunuh sesame anak negeri,. BElum lagi kita bicara bersapa besar anggaran Negara yang mengalir kekantong-kantong pribadi para oknum.
Penyelesaian dengan cara kekerasan adalah pilihan yang secara turun temurun diwariskan dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga mengakibatkan korban pada rakyat yang tidak berdosa
Pendidikan sebagai sarana utama membangun bangsa negeri ini telah lenyap, karena pendidikan menjadi barang langka dan mahal. Rasanya akan menjadi lebih mudah mengendalikan mereka apabila mereka bodoh,. Namun asumsi tersebut adalah asumsi yang sangat salah, karena kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan dan kekufuran.
Pengungsian dan pemukiman kumuh adalah hal yang biasa di negeri ini. Hanya dengan bantuan dan donasi berbagai Negara lain sajalah yang membuat mereka terhindarkan dari kelaparan. Dan hebatnya para pemimpin mereka tidak pernah merasa malu dan tidak nyaman dengan situasi seperti itu. Belas kasihan adalah senjata mereka untuk meminta, sebaliknya kesombongan adalah cara mereka untuk menolak dan hebatnya keserakahan adalah cara hidup mereka untuk mengelola negeri ini.
Ini bukan terjadi di Indonesia,, ini terjadi di sebuah negeri yang jauh dari Indonesia,. Namun hal seperti ini pernah terjadi di negeri kita,.
Doa saya untuk bangsa Indonesia, berbahagialah menjadi anak negeri, yang semakin hari semakin menuju kepada arah yang benar. Jagalah agar arah kehidupan bangsa ini tidak berbelok menuju arah yang tidak kita harapkan bersama.
Bangunlah bangsa kita menjadi bangsa yang beradab,, sebagaimana Panca Sila telah mengajarkan banyak hal kepada kita. Panca Sila bukanlah sesuatu yang diciptakan semalam oleh para orangtua kita dahulu. Semua sila yang ada merupakan hasil perenungan dan pemikiran serta pengalaman bertahun-tahun,. Namun kini, bahkan anak-anak kita hampir melupakannya,.
Jangan pernah wariskan negeri kita menjadi sebuah negeri penuh tipuan,
Bangunlah negeri kita menjadi negeri yang berketuhanan Yang Maha Esa
Bangunlah negeri kita menjadi negeri yang berkemanusiaan yang adil dan beradab
Bangunlah negeri kita menjadi negeri yang bersatu sebagai Persatuan Indonesia
Bangunlah negeri kita menjadi negeri yang demokratis
Bangunlah negeri kita menjadi negeri yang adil dan sosial..
Salam dari Darfur Sudan.
Senin, 2009 Januari 12
Negeri Penuh Tipuan
Rabu, 2008 November 26
Berkunjung Ke Indonesian FPU
Sekitar awal Bulan November kemarin, tepatnya tanggal 8 November, saya berkesempatan untuk berkunjung ke rekan-rekan FPU yang sudah ber home base di El Fashir,.
Tadinya saya berencana mengunjungi mereka pada bulan Januari nanti, namun beruntung kesempatan itu datang lebih cepat, karena pada tanggal 8 November bapak Duta Besar Indonesia untuk Sudan berkunjung juga ke Elfashir dalam rangka memenuhi undangan Sheikh
Kesempatan yang baik ini saya gunakan untuk bersilaturahmi dengan mereka sekaligus menikmati hidangan ala Indonesia bersama rekan-rekan FPU.
Tadinya saya mengira mereka tinggal di akomodasi dimana saya pernah tinggal sewaktu mengikuti kegiatan "Induction Training" di El Fashir. Namun akomodasi mereka meskipun sama tenda, ternyata jauh lebih baik dan sungguh layak untuk dikatakan sebagai akomodasi sementara.
Kamar mandi cukup bersih, serta dapur dan dinning room yang nyaman. Lebih dari itu saya tinggal ditenda yg ber AC jadi cuaca panas El Fashir sungguh tidak terasa.
Keramahan rekan-rekan FPU sungguh mengurangi rsa rinda saya untuk pulang,. Sayangnya saya hanya sendiri saja disana karena 2 teman saya tertinggal pesawat di Nyala.
Kamis, 2008 September 11
Pesan Untuk Para Wanita Yang Akan Menikah (Saduran dari Milis Tetangga)
Asma' binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah
(sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):
"Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan
tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah
kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah
kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka
ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran
baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan
baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia
merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu.
Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah.
Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia
memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar
kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap
darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik
berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang
santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi
tubuh dan pakaianmu."
"Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan
kehilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah,
janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah
bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu."
Demikian isi pesan tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan
renungan untuk para calon istri yang akan memasuki sebuah kehidupan baru.
Kehidupan yang mengakhiri masa lajang penuh penantian yang melelahkan.
Wallahu a'lamu bis showab.
(sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):
"Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan
tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah
kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah
kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka
ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran
baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan
baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia
merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu.
Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah.
Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia
memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar
kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap
darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik
berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang
santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi
tubuh dan pakaianmu."
"Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan
kehilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah,
janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah
bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu."
Demikian isi pesan tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan
renungan untuk para calon istri yang akan memasuki sebuah kehidupan baru.
Kehidupan yang mengakhiri masa lajang penuh penantian yang melelahkan.
Wallahu a'lamu bis showab.
Selasa, 2008 Agustus 26
Surat dari Darfur; Pesawat Sudan Dibajak, Selasa 26/08/08
Khartoum, Selasa - 26/08/08
Pesawat Boeing 737 milik Sun Air, perusahaan penerbangan Sudan, Selasa (26/8) dibajak begitu lepas landas dari Nyala, kota terbesar di Darfur, wilayah Sudan yang dilanda konflik bersenjata. Petugas perusahaan Sun Air menuturkan, pesawat sedianya akan terbang ke Khartoum itu, dibajak dan dipaksa mendarat di Tripoli, Libya.
Petugas yang tak bersedia menyebutkan namanya ini menjelaskan, pesawat lepas landas pukul 16.40 waktu setempat (20.40 wib) menuju Khartoum. Setelah 20 menit meninggalkan Nyala, pilot mengontak petugas di Nyala bahwa pesawat dibajak dan terbang ke Tripoli. Ada sekitar 87 penumpang di dalam pesawat
Petugas yang tak bersedia menyebutkan namanya ini menjelaskan, pesawat lepas landas pukul 16.40 waktu setempat (20.40 wib) menuju Khartoum. Setelah 20 menit meninggalkan Nyala, pilot mengontak petugas di Nyala bahwa pesawat dibajak dan terbang ke Tripoli. Ada sekitar 87 penumpang di dalam pesawat
Pembajakan Pesawat ini diduga merupakan aksi balasan dari pihak pemberontak terhadap insiden sehari sebelumnya, yaitu kasus penyerbuan Tentara Sudan yang memasuki Kamp Pengungsi di Kalma, Nyala dan mengakibatkan 30 orang lebih mati serta ratusan orang lainnya luka berat dan ringan.
Sabtu, 2008 Agustus 23
Surat dari Darfur; Ke Sekolah bawa bangku sendiri
Di Darfur, pendidikan adalah hal yang langka. kalaupun mereka mau pergi ke sekolah, mereka harus membawa bangku sendiri. Setiap pagi akan dengan mudah kita temui anak-anak yang berjalan kesekolah dengan membawa bangkunya sendiri.
Betapa beruntungnya ana-anak Indonesia, jadi mengapa kita harus berhenti berusaha meraih pendidikan hanya karena hal-hal sepele?? apalagi bagi mereka yang mampu.
Ya Allah jadikanlah aku menjadi umat Mu yang pandai bersyukur...
17 Agustus di Negri Orang
Tujuh Belas Agustus Tahun empat lima..
Itulah hari kemerdekaan kita..
Hari Merdeka.., Nusa dan Bangsa..
Hari Lahirnya Bangsa Indonesia..
Meeeerrrr... dee ka..
Sekali Merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan..
Alangkah mengharukan rasanya hidup jauh dan terpisah dengan tanah air ku tercinta. Apalagi -ketika moment-moment istimewa itu singgah disini. Begitu pula halnya dengan momen hari kemerdekaan kemarin.
Rasanya masih teringat, masa-masa dimana pada waktu saya kecil menyanyikan lagu "17 Agustus" diatas..
apalagi ketika harus mengingat momen dimana kami mengadakan berbagai perlombaan anak-anak..
Namun bagi Kami anggota Polri yang hanya bertiga di Darfur dengan misi UNAMID ini, arti 17 agustus menjadi begitu bermakna..
Luar biasa jauh dari tanah air, semakin jauh,,, semakin cinta kami kepada Bumi Pertiwi Indonesia..
Wahai anak negri..,
Jangan kau rusak bumi tempatmu berpijak..,
hanya karena kamu ingin serakah..
mengangkangi semua
merasa ini adalah hakmu..
Bukan
Bumi ini bukan hak kita
Bumi ini milik anak cucu kita
taugas kita menjaganya
Merdeka..
I Love you Indonesia
Rabu, 2008 Juli 02
Surat Dari Darfur...
Saya ini adalah manusia biasa, seorang yang memang manusia biasa yang mencoba menjadi apa adanya, hanya mencoba berjalan sesuai dengan amanat yang diberikan oleh yang pencipta. saya orang biasa yang mencoba menikmati hidup dan kehidupan, mengalir seperti adanya, mencoba menjadi apa adanya saya.
Memang saya mempunyai mimpi untuk bisa membantu orang lain, mewujudkan kehidupan yang lebih baik, tapi hal itu saya lakukan dengan sebatas kempuan yang saya miliki, tetapi dengan kebiasaan saya saya berkeinginan untuk dapat mencapainya dengan segala kemampuan yang saya miliki, saya tidak mau menjadi munafik menjadi orang luar biasa, yang menggunakan topeng-topeng kepalsuan, atas jati diri saya, karena berada dalam topeng-topeng kepalsuan itu membuat ketidak puasan hati, ketidak tentraman di jiwa, dan selalu berada dalam kesunyian yang panjang. maukah anda kita berdoa bersama agar semua manusia biasa bisa menjadi orang yang lebih baik....
Walau saya melihat terkadang saya ingin memiliki dan memakai topeng luar biasa untuk berhasil mencapai yang saya inginkan, tapi saya harus rela melepaskan topeng luar biasa itu dan mencoba menjadi jati diri sendiri, saya ingin menjadi orang biasa yang selalu lemah dan tidak berdaya, tetapi selalu dekat dengan Tuhan untuk dapat meminjam tanganya untuk membantu dan membimbing saya yang memang orang biasa ini untuk menggapai semua yang tidak saya bisa jangkau.
Saya adalah manusia biasa yang mencoba dengan tenang dan nyaman untuk dapat menikmati hidup saya, mendapat kan ketentraman hidup saya, saya tidak ingin menjadi orang luar biasa yang memiliki segala materi, tetapi selalu gundah dan gelisah dalam hidupnya, selalu tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, selalu menginkan apa yang dimiliki orang, selalu bergelut dengan hawa dan nafsunya. Saya selalu ingin menjadi manusia biasa dengan kerendahan dan ketulusan hati menerima dan menikmati kekurangan diri saya karena memang saya adalah manusia biasa, dan saya akan berdoa kepa tuhan agar semua kekurangan saya menjadi sebuah kelebihan saya tanpa mau menjadi diri yang bukan diri saya.
Saya ingin menjadi manusia biasa yang memiliki banyak teman, banyak sahabat yang mereka pun sama seperti saya hanya seorang manusia biasa, saya tidak ingin menggunakan topeng kemunfaikan, ego diri menjad manusia luar biasa, yang terkadang tidak memiliki kawan dan sahabat, dari dalam lubuk hati saya bertanya dan meminta dengan tulus, maukah anda menjadi kawan saya sebagai manusia biasa....
Saya hanya orang biasa yang mempunyai tidak mempunyai ilmu tetapi hanya sedikit, saya dengan kesedikitan ilmu yang saya miliki untuk bisa bermanfaat bagi saya dan anda, saya tidak ingin mengenakan topeng manusia luar biasa yang memiliki ilmu tetapi menyebabkan keria-an hati, membuat menjadi sombong dan takabut. Karena saya hanya manusia biasa, sayta hendak mengajak anda untuk berdiskusi dan bertukar ilmu sebatas yang saya miliki, maukah kita berbagi dan berdiskusi.. ..
Saya selalu mengingatkan diri saya bahwa saya adalah manusia biasa yang memang tidak pantas untuk di sanjung atau di puji, karena saya hanyalah manusia biasa dengan segala kebodohan dan kekurangan yang saya miliki, saya tidak mau mengenakan topeng manusia luar biasa yang membuat dirinya menjadi gila sanjung dan puji, dan akan membuat tertutup hatinya. Karena saya manuasia baisa saya berharap anda mau selalu mengingatkan saya jika saya khilaf dan lupa, maukah anda mengingatkan saya...
Terakhir kali karena saya hanya manusia biasa, saya akan mencoba memohon kepada Tuhan saya, agar saya dan anda untuk dijauhkan dan dilindungi dari setiap tipu muslihat topeng manusia luar biasa. dan sekali lagi saya mengingatkan diri saya sendiri sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan dosa, saya meminta maaf atas semua kesalahan yang saya buat secara sengaja dan tidak sengaja....
Karena saya hanya seorang manusia biasa... Bagaimana dengan Anda\/ mungkin anda adalah orang yang luar biasa yang memang mumpuni dan patut di hargai, biarkan saya mengapresiasikan penghormatan saya kepada anda yang luar biasa...
Sebuah permohonan maaf dan sapa hangat penuh cinta dari saya untuk anda semua para sahabat..semoga bisa anda sudi menjalin persahabatan dengan saya yang hanya orang biasa...
Darfur, 2 Juli 2008
Ditengah panasnya gurun Sector South, Nyala..
Kamis, 2008 Juni 26
Menembus Batas
Salah satu materi pelatihan yang saya kembangkan mengambil tema tentang bagaimana kita mampu menembus batas..
Ingin tau lebih banyak..?
Silahkan buka http://www.inslead.com/
Selasa, 2008 Juni 17
Kisah Tentang Pohon Apel..
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Surat Dariku Untuk Anakku...
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada anak-anaknya.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia pertengahan ini.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa kami pernah saling mencintai..
Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak.
Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.
Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.
Langgan:
Entri (Atom)
